Posted in Ceritanya Mbak Jou, Kompetisi Blog

Aku Berani Jadi Narablog pada Era Digital

Narablog? Baru pertama kali ini Mbak Jou ketahui. Secara ndak sengaja kala itu, sedang bermain instagram, muncul informasi lomba blog “Kompetisi Blog Nodi” di linimasa instagram Mbak Jou. Rasa penasaran makin meningkat ingin tahu, apa sih arti narablog? Lantas, Mbak Jou melakukan jelajah blog atau blogwalking ke beberapa blog orang lain termasuk blog Nodi Harahap. Dari mereka arti narablog Mbak Jou ketahui, yaitu terjemahan bahasa Indonesia untuk istilah blogger. Wah, bagus dong. Bahasa Indonesia memiliki istilah sendiri untuk menyebut orang yang gemar membuat karya tulisan di blog (web log).

Dunia blog tak pernah terbayang sebelumnya di benak Mbak Jou. Yang Mbak Jou inginkan hanya menulis, karena Mbak Jou senang bercerita. Walaupun demikian, ada kendala yang dihadapi, yakni ketakutan diri. Minder, ketika melihat orang lain bisa menulis dengan bagus. Ah, bisa ndak ya aku membuat tulisan yang menarik seperti itu? menjadi sebuah kalimat yang terus-menerus bergaung di kepala Mbak Jou. Pertanyaan diri seperti ini selalu menciutkan nyali dalam belajar menulis.

Pada tahun 2012,  akhirnya memberanikan diri, membuat sebuah tulisan catper atau catatan perjalanan tentang naik gunung. Ketika itu, Mbak Jou menuliskan semua hal yang ingin diceritakan. Tanpa jeda. Alih-alih terangkai isi cerita yang menarik. Susunan kalimat dalam satu paragraf malahan terlalu panjang. Tentu saja membuat lelah dan bosan bagi yang membaca.

Perasaan galau menguasai, merasa tidak mampu menghasilkan karya tulis yang baik. Sebab, menyusun kata masih serampangan. Tidak tahu mana yang baku, mana yang bukan. Bingung cara menggunakan tata bahasa yang baik dan benar. Ilmu menulis serta penguasaan digital pada saat itu juga masih minim dimiliki. Cerita pun berakhir dengan berhentinya Mbak Jou menulis.

Keinginan menulis kembali menyapa Mbak Jou, bagaikan sebuah panggilan jiwa. Lantaran hasrat bercerita yang menggebu-gebu. Mbak Jou pikir, kenapa tidak, jika cerita Mbak Jou kepada khalayak luas bisa memberikan kemanfaatan yang lebih jauh? Akan tetapi, kebingungan kembali membayangi. Rasa minder dan takut masih terus menggerayangi. Bagaimana cara memulainya? Lagi-lagi, Mbak Jou bertanya-tanya dalam hati.

Tulisan tak kunjung dihasilkan. Bulan demi bulan, yang akhirnya berganti tahun. Nihil. Kepada teman-teman yang lebih dahulu memulai, Mbak Jou berguru. Bagaimana cara membuat tulisan yang bagus? Apa yang harus dilakukan untuk memulai sebuah tulisan? Beragam artikel dan buku Mbak Jou pelajari. Belum ada titik cerah. Tak ada satu pun karya dapat ditelurkan. Namun, keinginan itu masih ada di sana. Terus menyala.

Benar saja. Tuhan selalu bersama dengan hamba-Nya yang berprasangka baik. Manakala pendar cahaya itu dijaga dengan baik, maka jalan-jalan menuju impian itu akan semakin terang benderang.

Bersama kesulitan ada kemudahan. Manusia hidup, senantiasa mendapat ujian dari Sang Pencipta. Sebagai bukti kesungguhannya.

Pada waktu yang bersamaan, Mbak Jou gemar menuangkan perasaan hati ke dalam tulisan yang berwujud diari. Jika hati sedang gembira Mbak Jou menulis. Jika hati gulana Mbak Jou kian bersemangat menulis. Sungguhpun sebagai terapi jiwa, siapa sangka, hal ini justru menjadi kesempatan mengembangkan diri. Perlahan namun pasti, anak tangga menuju impian menulis sedang Mbak Jou susun sebenarnya. Diari menjadi alat merangkai rasa. Dari kata-kata hingga makna penuh warna.

Ada sebuah hal penting, yakni bola semangat yang harus tetap bergulir. Nyala-terangnya harus terus dijaga dengan baik. Sebab, menjaga keajegan tidaklah mudah. Mas Bou sebagai mentor pertama dan utama, sangat berperan dalam proses ini. Mas Bou adalah penyemangat tak kenal lelah yang selalu mendorong Mbak Jou maju berkarya.

Yang penting kuantitas dulu, perbanyak menulis. Kualitas bisa menyusul nanti,” pesan Mas Bou kepadaku berulangkali.

Di suatu sudut diri, rupanya masih ada momok minder dan takut yang membayangi. Apa yang harus kulakukan? Hadapi. Menulislah. Apa saja yang  ingin engkau tulis. Jangan pikirkan dulu tulisanmu akan menarik atau tidak. Tulis saja. Engkau tak akan pernah tahu hingga engkau mencobanya.

Pada tahun 2016, Mbak Jou mengawali tulisan pertama di blog “keluargaismail” dengan bercerita mengenai pengalaman. Perlu waktu lebih dari tiga hari, seingat Mbak Jou, agar tulisan itu rampung. Setelah usai menulis, berkali-kali Mbak Jou melakukan swasunting. Deg-degan dengan hasil karya sendiri. Sudah betul atau belum ya penulisan kalimatnya?

Sebagaimana orang yang sedang jatuh cinta, tak bosan-bosannya Mbak Jou membaca ulang tulisan perdana itu. Seakan tak percaya bahwa, Mbak Jou berhasil melawan ketakutan dalam diri. Terlebih lagi, blog adalah hal baru bagi Mbak Jou. Berbagai hal teknis mengenai tampilan, pengaturan blog, dan sederet perkara digital awam Mbak Jou ketahui.

Tanpa rasa bosan, Mas Bou telaten mengajari Mbak Jou berkenalan dengan blog. Di tengah proses belajar tersebut, pada suatu hari, Mbak Jou ketahui ada segelintir orang yang membaca tulisan Mbak Jou. Betapa senang hati ini! Kegembiraan yang bertambah tatkala ada orang yang mengapresiasi dengan kesediaan mereka membaca tulisan Mbak Jou.

“Wah, ndak nyangka ada yang mau membaca tulisanku,” pekik Mbak Jou kegirangan.

Momen ini bagaikan suntikan semangat yang Mbak Jou peroleh dari luar. Hingga kini pun, hati selalu bahagia jika tulisan yang Mbak Jou posting diapresiasi oleh orang lain baik dengan dibaca maupun diberikan komentar.

Statistik Pembaca Keluargaismail tahun 2019
Dokumentasi pribadi. Dukungan dari berbagai penjuru dunia. Terima kasih kepada pembaca blog keluargaismail!

Kebahagiaan turut menulari diri Mas Bou. Melihat sang isteri penuh semangat dan punya gairah baru mewujudkan impiannya. “Ayo, sudah menulis lagi belum?,” begitu tanya Mas Bou menyemangati Mbak Jou ketika hasrat menulis sedang mengendur.

Tak ingin menyia-nyiakan dukungan dan rasa percaya dari Mas Bou, Mbak Jou berlatih terus untuk menulis. Seringkali kami berlomba, selain dengan kesibukan harian, menulis di blog kami masing-masing. Bulan ini menulis apa? Sesekali, kami selingi dengan berbagi informasi supaya kapasitas diri dalam menulis meningkat. Ayo, ikut grup ini dan itu. Ayo, bergabung dengan komunitas ini dan itu. Mereka bisa menjadi sarana penguat semangat menulis, lho.

Lambat laun, tulisan di blog makin banyak dan berwarna. Pembaca blog bertambah dari segi jumlah dan jangkauan area. Semangat menulis kian menggelora. Jati diri menulis pun Mbak Jou temukan. Gaya penulisan, konten blog, dan niche mulai bisa terarah. Artinya, kemampuan menulis dituntut supaya terus dikembangkan.

Logo Blog Keluargaismail
Dokumentasi pribadi. Logo situs blog

Bagi Mbak Jou, blog “keluargaismail” ini ibarat majalah digital. Sejak awal, judul blog dan alamat situs blog sudah Mbak Jou buat secara spesifik. Begitu pula dengan slogannya, yaitu Ceritanya Mas Bou dan Mbak Jou. Personalisasi dan spesifikasi ini bertujuan untuk menjelaskan identitas blog ini. Pembaca dapat menemui beragam rubrik cerita, sesuai slogan blog ini, di dalam kategori-kategori blog ini.

Menemukan info “Kompetisi Blog Nodi” menjadi sebuah momentum bagi Mbak Jou belajar tentang dunia blog dengan lebih baik lagi. Di era digital ini, kita tak harus belajar melulu via luring (luar jaringan). Seperti Mbak Jou yang sekarang berada jauh dari tanah air, dengan cara daring (dalam jaringan), Mbak Jou tetap bisa belajar mengembangkan diri utamanya di dunia menulis.

Terpisah oleh jarak dan waktu dengan tanah air, tak menyurutkan semangat dan langkah menimba ilmu kepada rekan-rekan senior narablog lain seperti, Joe Candra, Nabilla DP, dan juga Khrisna Pabhicara. Nodi Harahap telah memberi sumbangsih kepada Mbak Jou dalam proses mempelajari dunia blog. Mengenal mereka sebuah kesyukuran luar biasa, teringat akan masa-masa terpuruk saat titik cerah belum ditemukan.

Menceburkan diri dalam komunitas yang sama, sangat berdampak pada terjaganya semangat mengembangkan diri. PR Mbak Jou pada tahun ini, yakni menjaga konsistensi menulis. Tak ada cara lain selain memperbanyak karya menulis. Karena di sanalah medan perang yang sesungguhnya. Mengasah kemampuan tiada henti agar diri berprestasi.

Ketakutan yang semula ada, akhirnya mampu diatasi. Nyatanya, ketakutan itu datang dari diri sendiri. Kita hanya perlu mau mencoba dan bangkit menghadapinya. Jalan akan selalu terbentang bagi mereka yang bersedia mencari. Setelah ini, Mbak Jou akan belajar ikut lomba blog lainnya. Sarana baik untuk menjajal kemampuan dan rasa percaya diri demi belajar sepanjang hayat. Kalian juga ingin jadi narablog? Yuk, kita pasti bisa!

 

Advertisements
Posted in Ceritanya Mbak Jou, Urip Neng Spanyol

Memenuhi Undangan Minum (Jus) Tomat?

Seperti biasa, usai pelajaran di kelas aku dan Mbak Sayuti (pakai nama samaran) segera keluar kelas. Kami berjalan beriringan sampai nanti berpisah di dekat gerbang sekolah SMA seberang lembaga kursus kami. Aku tak bisa berbahasa asing selain bahasa Inggris untuk berkomunikasi di sini. Sedangkan dia, hanya bisa berbahasa Arab dan berbahasa Spanyol. Jika mengobrol berdua, alamaak… gemas-gemas gimanaaa gitu. Pengen pakai google translate, kok ya rempong-marempong. 😆

“Besok kamu ke rumahku, ya. Kita minum tomat bareng-bareng. Di rumahku.” Begitu kata Mbak Sayuti sebelum kami berpisah.

Hah, minum jus tomat? Beneran nih, minum tomat! 

Waduh, aku kan ndak suka jus tomat. Batinku.

“Hoo-ooh. Sí. Sí. Vale. Vale.” jawabku nglegani. Tapiii… ya karena bingung juga mau jawab apa. Wong belum bisa ngomong panjang kali lebar.

(Oooh. Ya. Ya. Ya. Oke. Oke.)

Adios. Ma’a salamah.

Ma’a salamah.

Dan kami pun berpisah.


Sesampainya di rumah, aku menceritakan pada Mas Bou soal undangan minum jus tomat dari Mbak Sayuti ini.

“Wah, gimana ya. Aku kan ndak suka minum jus tomat. Tapi masak aku nolak, sih.”

Yowes, dateng aja. Nanti kalo disuguhin jus tomat ya teko dinikmati saja, tho. Lagipula kan buat menjalin keakraban. Sambil latihan ngomong bahasa Spanyol.”

“Hemm … iya juga ya. Atau, besok kalo disuguhin jus tomat, aku tak minta teh aja apa ya?”

“Ya. Bisa juga sih …. tapi yo teko dateng aja. Jangan lupa bawain oleh-oleh.” Imbuh Mas Bou.

“Oh, iya. Wah mbeliin apa ya … buah aja apa ya … kan netral.”

“Iya, besok mampir beli dulu sebelum berangkat. Ke Consum aja, kan deket tuh.”


Waduh! Aku bakal telat banget, nih. Tapi untungnya aku sudah kirim pesan ke whatsappnya Mbak Sayuti. Hemm, mau ngobrolin apa ya nanti. Pikirku sembari mengayuh sepeda bicicas menuju rumah Mbak Sayuti.

Mentari cukup terik pada sisa-sisa musim panas ini. Membuatku sedikit berkeringat. Tinggal satu belokan lagi, terus sampai di stasiun bicicas nomor lima puluh delapan. Jalan kaki kurang dari lima menit ke apartemennya. Kayaknya bakal pas deh perhitunganku. Telat 20 menit-an. Hosh…hosh…hosh.

Langkahku sudah dekat ke arah apartemennya. Kulihat foto yang kuambil kemarin di ponselku, mencocokkan nama jalan yang kemarin ditunjukkan Mbak Sayuti padaku. Oh, betul ini dia rumahnya. Batinku.

Di depanku ada seorang perempuan berjilbab yang baru saja memencet salah satu bel di rumah itu. Dia pun secepat kilat masuk segera setelah pintu pagar terbuka.

Yaah, kalah cepat deh aku. Niat hati mau masuk bareng. Ya, sudahlah. Kucari nomor rumah Mbak Sayuti di panel bel dekat pintu pagar. Ini dia, nomor empat. Lantas kupencet nomornya. “Tetttt”

“¿Sí?” terdengar suara dari seberang. (Ya?)

“Assalamu’alaykum. Soy Jou.” Jawabku (Assalamu’alaykum. Saya Jou.)

“Ah, Vale … Vale.” (Oh, ya. Oke … Oke.)

“Ctegg”

Aku pun masuk ke dalam. Celingukan ke kanan dan ke kiri mencari lift. Huhu, ndak ada. Baiklah, olahraga belum selesai. Mari berjuang ke lantai empat. 😀

Waduh, kok rame ya. Jangan-jangan orang tadi datang juga ke rumah Mbak Sayuti. Waduh… kumpul ibu-ibu dong. Krik…krik…. Antara senang, bingung, dan galau. 🙄

“¡Hola! ¿Como estás?” (Halo, apakabar?)

“Muy bien, muy bien, alhamdulillaah.” Jawabku yang cuma hafal kata-kata itu. Ahaha. (Baik, baik, alhamdulillaah)

Sini. Sini, masuk ke sini. Kata Mbak Sayuti membimbingku ke ruang tamunya. Kuserahkan padanya buah tangan yang sudah kusiapkan.

Eh, buset deh. Beneran kan cyiin. Kulihat ada banyak perempuan berkumpul di ruang itu. Rame banget. Sudah ada sekitar tujuh orang –belum termasuk diriku dan Mbak Sayuti– duduk di sofa yang melingkari ruang tamu. Acara apakah gerangan yang kuhadiri ini? Kataku dalam hati. wkwkwk. Salah acara nih. 😆

Semua orang kusalami satu per satu, cipika-cipiki, sambil kuperkenalkan namaku. Mereka tersenyum. Bahagia menyambutku. Halah. Padahal aslinya, aku sendiri yang kikuk. Merasa jadi alien. Aduh, kalau ini beneran aku yang lagi ada di negeri antah berantah deh. Everyone speaks Arabic, except me!

This slideshow requires JavaScript.

Kupandangi meja di tengah. Penuh dengan kue-kue, tapi tak kulihat satu gelas pun sosok jus tomat di atas meja itu. Insting detektifku langsung menguat. Sepertinya acara ini bakal lama. Semacam arisan ibu-ibu gitu kayaknya. Aduh, aku harus ngomong apa ini. Bakal salting banget. Bakal garing banget. Pada saat inilah rasanya aku ingin melambaikan tanganku ke arah kamera. 😕

Diriku pun hanya bisa senyum-senyum gak jelas, speechless. Kuamati mereka satu per satu. Berusaha mencari tahu apa yang sedang diobrolkan. Mereka ketawa, aku pun ikut-ikutan ketawa. Sok tahu, padahal enggak ngerti sama sekali. Hihihi. :mrgreen: Di antara mereka tak tampak ada yang bisa berbahasa Inggris. Aduh, kayaknya aku kena jebakan batman. Lantas aku terpikir berbagai macam skenario tentang acara yang belum dimulai ini. Mbak Sayuti juga masih sibuk mondar-mandir di dapur.

Seorang mbak-mbak yang terlihat muda, mencoba menawariku kue. Mungkin dia tahu, kalau aku merasa kikuk atas situasi absurd ini. Dia juga menyanjung cara berjilbabku yang menutup dada. Ahaha. Biar ada obrolan kali ya, dengan bahasa Spanyol patah-patah aku pun berusaha menjelaskan caraku memakai jilbab. Kami tertawa hahaha-hihihi lagi.

Kuseruput teh herba yang barusan dituangkannya untukku. Duh, enaknya. Lagi-lagi, dia mempersilakan aku untuk mengambil kue di depanku. Tak tanggung-tanggung, dia pun lantas menyodorkan sepiring penuh berisi macam-macam kue. Aku pun terpaksa mengambilnya, padahal memang kepengin mencicipi. Ah, pucuk dicinta ulam pun tiba! Dasar perempuan. Malu-malu meong. 😆

Kuambil sebuah terang bulan dari piring yang disodorkannya. Dan kupikir langsung dimakan saja. Hehehe. Oh, tidak rupanya! Perempuan di sebelahku lalu menunjukkan piring kecil isi mentega dan madu. Isyarat bahwa si terang bulan mestinya dimakan bersama dengan madu atau mentega. Baiklah, aku pun mengambil mentega dan kuoleskan ke bagian dalam terang bulan.

Menteganya masih agak beku, pantas saja susah menyatu dengan si terang bulan. Hadyuh.. Lalu, kutambahkan saja madu biar ada rasa manis-manisnya, gitu. Nyamm… kunikmati si terang bulan seperti makan hamburger. Hap..hap..hap..

Olala, ternyata cara makannya bukan begitu. Namun disobek kecil baru dicelupkan ke mentega atau madu. Oalah mbak, kenapa kau tak ajarkan padaku dulu tadi? Terperanjat diriku melihat mbak-mbak yang duduk di seberang sana, turut menikmati terang bulannya. Terlambat sudah karena kini aku memilih mencicipi si lumpia isi ikan tuna dan telur.

Kulihat Mbak Sayuti masih sibuk wara-wiri membawa teko-teko berisi teh, air putih, dan jus jeruk. Sesekali dia tersenyum padaku dan menyuruhku mencicipi hidangan kue dan panganan di meja. Tiba-tiba, bel berbunyi dan tak lama kemudian ada peserta lain yang datang. Wah, masih ada yang lain datang juga?

Tamu lain, seorang ibu-ibu yang lebih pantas kusebut tante, datang dan duduk di samping kananku. Mbak-mbak yang ramah tadi mengambil segelas teh panas dan memberikannya pada si tante. Mereka mengobrol sesuatu yang tak kumengerti. Datanglah seorang perempuan lain ikut nimbrung duduk di sebelahnya. Kebetulan dia punya balita umur satu setengah tahun. Si balita pun serta merta mendekati si tante. Aku jadi ikutan menggoda si balita dong.

Aku bercandai si balita sampai dia tertawa terkekeh-kekeh. Sesekali si balita menginginkan lumpia yang sedang kumakan. Aku pun sungkan untuk memberi, karena aku tak tahu apakah si balita diperbolehkan atau tidak makan lumpia. Ibu balita lantas memberikan biskuit padanya. Aku masih saja terus mencandai si balita. Ia pun masih terus terkekeh karena kugodai.

Tanpa kuduga, si tante tiba-tiba berubah raut mukanya. Rona wajahnya memerah dan terlihat sedih, tampak bulir air mata keluar dari sudut matanya. Waduh, ada apa ini… ada apa ini? batinku. Aku yang baru saja mengunyah lumpia dan hendak menelannya, tercekat seketika. 😳

Suasana menjadi teramat aneh setelahnya. Mbak-mbak yang ramah tadi berusaha menenangkan si tante dan memberikan sehelai tisu padanya. Mbak Sayuti yang kebetulan lewat, jadi ikutan nimbrung memeriksa apa yang sedang terjadi. Si tante menjelaskan tentang sesuatu. Duh, kok aku jadi salah tingkah nih. Perasaan aku ya ndak berbuat aneh-aneh. Mbak Sayuti menepuk-nepuk si tante, memberikan tanda simpatinya. Tak lupa dia melirik padaku, memberi kode bahwa yang barusan terjadi bukanlah apa-apa. Akhirnya kutaruh lumpiaku di piring gara-gara situasi yang canggung ini. 🙄

Beberapa menit kemudian, suasana kembali normal dan mereka membicarakan topik yang lain. Mbak Sayuti sesekali menanyaiku, gimana enak enggak kuenya? Ya. Ya. Enaakk. hehehe. Jawabku. Aku masih bingung dengan acara ini sejujurnya. Aku pikir akan ada acara pembukaan atau apa. Ternyata, semua mengalir begitu saja. Betul-betul acara arisan yang isinya hanya bincang-bincang santai. Tapi, mau santai bagaimana, yang kurasakan malah aku yang canggung ingin segera kabur dari tempat ini. Untung saja ada kudapan yang bisa kucicipi. Jadi, walau aku enggak mudeng obrolan mereka, aku masih bisa icip-icip. 😆

Satu setengah jam berlalu. Aku yang tadinya datang dengan perut kosong, mulai kekenyangan setelah icip-icip kue yang diselingi minum teh. Hari juga makin siang, aku masih tak tahu harus berbuat apa. Beberapa tamu lain masih saja datang silih berganti. Aku yang sudah ndak tahan dengan kebosanan ini memilih main hape. Kebetulan, ada teman lama yang tiba-tiba kirim pesan whatsapp. Aku justru jadi curcol padanya karena nyasar di acara minum jus tomat. 😆

Sembari memperhatikan situasi dan kondisi, aku berpikir keras bagaimana caranya keluar dari acara yang sungguh membosankan ini. Aku juga sedari tadi menunggu-nunggu jus tomat yang menjadi inti acara ini, seperti undangan yang disampaikan Mbak Sayuti padaku kemarin. Tapi kok ya ndak kunjung dihidangkan. Malahan sebaliknya, jus jeruk dan teh yang menjadi suguhan di acara ini.

Aku jadi curiga. Sebenarnya apakah tomat atau tomar atau apa ya? Ah, tapi bener kok. Aku dengernya Mbak Sayuti bilang tomat kemarin padaku! Sanggahku pada diriku sendiri.  

Hemm… kayaknya memang aku yang salah persepsi deh. Mungkin memang tomar kali ya. Kalau “tomat”, pasti dia akan bilang tomate. Bahasa Spanyolnya “tomat” kan tomate bukan tomat? Tomat mah bahasa Indonesia keleus. Aku bersungut-sungut sendiri. :mrgreen:

Fiuhh… Aku benar-benar mulai menyerah dengan situasi ini. Ngantuk. Bosan. Salah tingkah. Garing. Enggak jelas.

Akhirnya, aku punya kesempatan untuk kabur setelah ada beberapa orang yang pamit menjemput anaknya sekolah. Aku pergi ke dapur menemui Mbak Sayuti yang sedang mempersiapkan sesuatu. Kukatakan padanya bahwa ini sudah hampir mendekati jam makan siang. Sebentar lagi Mas Bou akan pulang dan aku harus menyiapkan makan siang untuknya. 😀

Mbak Sayuti pun memahami dan mengizinkan aku pamit. Disuruhnya aku menunggu sebentar. Dia mengambil wadah dan membungkus beberapa camilan kue untuk kubawa pulang. Akhirnya aku pamit padanya sembari bilang bahwa kami akan bertemu lagi di kelas besok. Tak lupa aku juga pamit kepada para peserta undangan minum tomat ini. Satu per satu aku cipika-cipiki pada semuanya. Kukatakan pada mereka bahwa aku senang bertemu dengan mereka. Hehehe. 😆

“Gracias. Hasta mañana.” (Terimakasih. Sampai besok.)

“Hasta mañana.” (Sampai besok.)

Kuturuni tangga dari lantai empat dengan perasaan bahagia. Rasa kantukku langsung hilang. Ahaha.

Kuambil ponselku dengan rasa penuh penasaran aku membuka aplikasi google translate. Kumasukkan kata “tomar” dan seketika muncullah hasil terjemahannya: minum.

Buahahaha….. Aku tertawa lepas. Ternyata “tomar” itu undangan minum! Bukan undangan minum jus TOMAT……………………. 😆 😆 😆

Tomar… oh… tomar….

Sambil kukayuh sepeda bicicas menuju rumah, aku tertawa cekikikan atas kekonyolan undangan minum jus “tomar” yang baru saja kuhadiri ini.

Bicicas Castellón
Siap pulang dengan sepeda bicicas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in HALAL Life in Europe, Plesirannya Keluargaismail, Urip Neng Spanyol

City Tour di Valencia: Pad Thai Wok dan Hiper Asia (selesai)

Sudah membaca cerita sebelumnya di bagian-1 dan bagian-2? Jika belum, apa salahnya yuk dibaca dulu ^^

Pad Thai Wok (Thai Street Food) 

Di sini kami mengisi perut saat jam makan siang. Salah satu kedai halal selain kebab yang ada di seberang stasiun. Pad Thai menjadi pilihan karena menu kebab terlalu mainstream bagi kami jika bepergian di luar. Kebab memang populer sekali di Eropa, sehingga bosan juga kalau harus ketemu kebab lagi…kebab lagi… Toh, saat ini ada pilihan lainnya. 😆 Ngomong-ngomong, Pad Thai Wok ini tak hanya ada di kota Valencia saja lho, mereka juga memiliki outlet lain seperti di kota Sevilla dan Cordoba.  

Di atas pintu masuk, kami jumpai informasi logo halal dan juga logo untuk vegetarian. Kami pun masuk ke dalam. Tampak kursi-kursi telah penuh oleh pengunjung yang mayoritas anak muda. Tak ada pilihan lain, hanya tersisa satu meja di tengah. Sejenak kemudian pengunjung di seberang kami pergi meninggalkan piring-piring kosong. Demi kenyamanan, kami memilih pindah ke meja yang lebih besar itu. Seorang pramusaji dengan cekatan segera membereskan piring-piring kotor di hadapan kami.

Daftar makanan yang terdapat pada kartu menu cukup banyak. Mirip warung makan yang kami kunjungi di Jogja. Bikin pusing gimana menentukan pilihan. Setelah melihat-lihat jenis makanan berikut harganya, kami memesan seporsi padthai berisi udang dan ayam, tak lupa juga sebotol minuman dingin. Kami berencana akan memesan menu lain jika menu yang pertama kami pesan masih kurang.

Menjadi kebiasaan kalau makan di luar, kami akan memesan satu porsi makanan terlebih dahulu. Kadang-kadang juga dengan makanan kecil. Bagi kami, porsi makanan orang Eropa amatlah banyak (mungkin di negara 4 musim memang porsi jumbo, ya). Sehari-hari Mas Bou dan Mbak Jou terbiasa makan dalam porsi cukup.  Pengalaman, beberapa kali pesan makanan dua porsi sekaligus, pada akhirnya selalu ndak habis karena terlalu banyak. Jadi, kami berupaya menghindari makanan mubadzir. Teringat, masih banyak orang-orang yang untuk makan sehari tiga kali saja belum tentu mampu. 

Jujur, baru kali ini punya pengalaman mencicipi padthai. Sebelumnya juga ndak pernah kepo sih, makanan ini seperti apa. Pas lihat menunya, yang kebayang ya paling kayak mie goreng, hehehe. Rasa penasaran hilang seketika waktu pesanan datang. Ternyata memang benar gede! Piringnya….. 😛 Review dari Mas Bou dan Mbak Jou, sepiring padthai ini bisa dibilang tanggung sih. Kalo dimakan sendiri ndak abis, tapi kalo dimakan berdua ya ndak kenyang-kenyang amat. Meski begitu, kami ndak tertarik untuk pesan lagi. Hahaha. 

Rasanya enak, endeus-mantep bumbunya. Padthai ini dibumbuin pake saus tiram, kecap asin, kecap ikan gitu deh kayaknya. Si koki pun bumbuhin saus-sausnya cukup banyak. Bener-bener mantep jadinya. Jenis mie yang dipakai dalam padthai yang kami pesan ini ukurannya gede-gede, kayak udon. Waktu melihat struknya memang tertulis udon padthai gitu sih. Selain ada mie yang segede udon, ada sayuran seperti wortel,  kubis, kubis ungu, dan tauge. Sisanya udang dan ayam sesuai pilihan kami. Nah, selesai mengisi perut saatnya menuntaskan perjalanan ke Hiper Asia! 

20181025_155249-01.jpeg
Mienya gede-gede bingittt, seporsi gini harganya 9,5€

HIPER ASIA

Keluar dari kedai Pad Thai Wok langsung ambil jalan ke arah kanan, menyusuri jalan Carrer de Bailén. Di belakang stasiun Valencia Nord terdapat toko Asia yang menjual berbagai alat dan bahan makanan khas dari wilayah Asia, terutama dari China, Jepang, Korea, Indonesia, Thailand, dan Vietnam. 

Valencia Nord
Kiri: Stasiun Valencia Nord. Kanan: deretan kedai halal di pojokan. Tengah: Jalan carrer de Bailén menuju Hiper Asia.

Pas masuk ke Hiper Asia kesan yang muncul, yaitu merasa lagi ada di swalayan Pamela (Jogja). Dari pintu masuk kami melihat-lihat dulu berbagai barang di rak yang ada di lajur kanan. Ada beragam barang-barang rumah tangga mulai dari peralatan dapur, peralatan bersih-bersih, peralatan rumah tangga, sampai peralatan sekolah. Pokoknya banyak deh macamnya.  

Hiper Asia di Valencia

Puas mencermati satu per satu barang yang dipajang, kami beralih ke lajur bahan makanan. Ingin rasanya beli ini-itu, namun tujuan berbelanja hanya mencari bumbu-bumbu jadi kami urungkan keinginan hati yang fana ini. 😀 

Dalam berbelanja, wajib yang pertama kami perhatikan adalah kandungan bahan. Apakah boleh dikonsumsi oleh kami sebagai muslim? Kalo enaknya di Indonesia, mayoritas produk sudah berlabel halal MUI, jadi enggak perlu repot-repot kan ngecek bahan-bahannya. Di Jogja, jika berbelanja bulanan di warung langganan, waktu banyak dihabiskan untuk memilih produk yang mau dibeli. Sekarang, justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengecek kandungan bahannya. Hehe. 

Walau begitu, sungguh ada sisi baiknya. Saya jadi makin tahu betapa pentingnya sikap cermat dan perhatian terhadap kehalalan pangan yang masuk ke dalam tubuh. Seperti ujaran yang cukup mahsyur, you are what you eat. Apalagi, pangan halal adalah mandat Ilahi yang wajib diikhtiarkan sebagai bentuk cinta pada-Nya.

Tahun 2016 (kalo ndak salah ingat), saya sempat mengikuti halal class yang diadakan di Fakultas peternakan UGM. Dari belasan kali pertemuan, materi perkuliahan mayoritas disampaikan oleh Ir. Nanung Danar Dono, M.P., Ph.D, yang menjabat sebagai auditor halal LPPOM MUI DIY. Materi-materi yang ada dalam halal class ini membuka mata dan pikiran saya bahwa persoalan halal pada produk itu menjadi semakin kompleks terutama dalam produk-produk pabrikan. Kompleks, sebab ada banyak zat aditif (syubhat/haram) yang mungkin dapat dicampurkan dalam suatu produk meski produk tersebut aslinya halal.

Sebagai contoh, kue yang pada dasarnya halal bisa berubah status kehalalannya jika menggunakan bahan tambahan pangan yang mengandung unsur dari babi atau khamr. Campuran babi semisal penggunanaan lard (lemak dari babi) pada pastry atau gelatin pada permen dan jelly. Penggunaan rhum sebagai peningkat rasa enak dan penghilang bau amis telur pada kue-kuehan. Hal-hal seperti ini yang sering luput jika kita tidak cermat terhadap kandungan bahan pada suatu produk.

“Wah, ada roti enak nih kayaknya!” Eits, tengok dulu yuk kandungan bahannya. 🙂

Kembali ke toko Hiper Asia, mereka menjual beberapa barang produksi tanah air, lho. Paling legendaris ya apa lagi, si indomie seleraku. 😆 Sebungkus dihargai 7000-an rupiah. Produk lainnya ada kecap manis ABC, mie atoom bulan, kerupuk udang, dan keripik singkong. Sisanya, produk dari negara Tiongkok mendominasi semua rak. Beberapa produk dari Thailand, Korea, dan Taiwan ada yang sudah memiliki logo halal. Selain itu, tentu saja harus melihat kandungan bahannya. 

This slideshow requires JavaScript.

Di deretan lemari pendingin, kita bisa menjumpai beragam jenis tahu, kulit lumpia, cabe, daun jeruk, sereh. Sayur-mayur seperti kacang panjang, sawi putih, tauge, kangkung kadang-kadang juga dijual. Kalo ingin membuat tempe sendiri pun bisa, karena kedelai kuning juga tersedia di sini, hanya saja raginya yang tidak ada. Oya, bagi penggemar santan, jangan khawatir… santan kaleng bisa menjadi solusinya. Siapa tahu pengen bikin rendang, kan? 😀

Terakhir, Mbak Jou dapat saran dari teman nih, ada aplikasi (bisa diunduh di playstore) untuk mengecek kode-E pada suatu produk. Kode ini merupakan kode-kode tambahan pangan yang sifatnya bisa berasal dari tumbuhan atau hewan. Jika dari tumbuhan pastinya halal kan. Nah, jika dari hewan ada dua kemungkinan: 1) Apakah bersumber dari babi (dan jelas ini hukumnya haram dikonsumsi, ya) atau 2) dari hewan halal seperti sapi, domba/kambing, atau ayam/kalkun/dst. Walaupun dari sumber hewan halal, yang perlu dicermati yakni cara penyembelihan apakah sudah sesuai cara (syari’at) Islam? Jika tidak, sudah pasti kita harus menghindarinya karena tak boleh kita makan.  

Tentu saja bagi kita yang awam akan amat kesulitan kan, setidaknya dengan kehadiran aplikasi ini, kita bisa terbantu untuk lebih jeli dalam memperhatikan makanan yang kita konsumsi. Silakan mengunduh di sini, ya. Semoga tulisan kali ini bermanfaat. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. ^^

Posted in Plesirannya Keluargaismail, Urip Neng Spanyol

City Tour di Valencia, Spanyol (2)

Lokasi berikutnya setelah mercat central, kami ke sini nih…

 2. Església de Sant Joan del Mercat

Keluar mercat central dari pintu sebelah barat laut, langsung bisa kita jumpai sebuah bangunan religius umat Katolik, namanya Església de Sant Joan atau Gereja Santo Joan. Berada persis di seberang  pasar tradisional Valencia atau di jalan carrer de Belluga, gereja dengan arsitektur gaya gotik ini tutup saat kami tiba di sana. Lantas, kami memutari bangunan tersebut ke arah timur. Segerombolan turis tampak serius mendengarkan penjelasan tour guide mereka. Kami berdua langsung ikut-ikutan memandang apa yang sedang mereka lihat.

Oalah.. ini dia yang menjadi ikon si gereja tua terkenal ini. Menara jam dengan angka romawi bertengger di atas gereja. Dua buah patung bernama santo Juan turut mengapitnya. Bagian paling pucuk menara merupakan penunjuk arah angin berbentuk burung. Ndak tahu juga burung apa. Hehehe. Ada bagian bangunan yang membuat Mbak Jou penasaran. Soalnya, tinggi permukaan tempat kami berada melebihi bagian bangunan tersebut. Semacam hampir menutupi malah. Terlihat seperti ruang bawah tanah. Hem,, tapi apa iya, ya? entahlah…

3. La Lonja de La Seda 

Masih berada di satu area, tepatnya di seberang gereja tadi, sebuah bangunan gotik lainnya kokoh berdiri. Bangunan ini menjadi saksi nyata keriuhan perniagaan di masa silam. La Lonja de La seda, berarti silk exchange dalam bahasa Inggris, atau jual beli kain sutera. Selain sutera, barang yang pernah diperjual-belikan di gedung ini, ada minyak-minyak nabati hasil pertanian dan juga beberapa jenis perdagangan lain (wikipedia). Bangunan ini memiliki tiga bagian utama juga kebun jeruk di sisi barat laut. Jika ingin melihat secara detil isi dalam bangunan ini, cukup merogoh kocek 2€ sebagai tiket masuknya.

Beranjak menuju lokasi berikutnya, kami menyusuri jalanan kecil di sebelah utara. Di kanan-kirinya berderet toko-toko suvenir yang sedang tutup. Pantas saja, memang waktu jam makan siang. Toko-toko pasti banyak yang tutup. Hanya kafe dan resto-resto yang buka disesaki para turis. Sesekali Mas Bou memperhatikan meja-meja hidang di warung makan yang kami lewati. Tentu saja menu yang tersaji di meja tampak menggiurkan. 😀

Sempat terekam oleh ingatan kami, ada sepiring paella dengan udang besar-besar berwarna merah terang tersaji di hadapan sekelompok tamu di meja sebuah resto. “Andai itu halal, semua pasti tak makan. Tak cobain satu-satu. nyam..nyam..nyamm. hahahaaa.” Celoteh Mas Bou kepada saya. Saya cuma cekikikan. “Emangnya punya duit kamu…” jawab saya menimpali. wkwkwk. Memastikan makanan halal menjadi sebuah keharusan bagi kami. Sehingga kami tak membiasakan diri jajan sembarangan. Hal ini kami lakukan  semata berusaha dengan baik menjalankan  apa yang menjadi keyakinan kami.

Obrolan ngalor-ngidul berlanjut hingga tak sadar sudah sampai di ujung jalan. Kami lantas berbelok mengambil jalan di sebelah kiri, kembali melewati deretan kafe dan resto. “Itu lho sayang, katedralnya…” Mas Bou menunjuk sebuah bangunan besar di pojokan.

4. Valencia Cathedral dan Plaça de La Reina 

Katedral Valencia merupakan bangunan luas yang memiliki satu kubah utama besar dan  delapan kubah kecil. Masing-masing empat di sayap kanan dan empat di sayap kiri katedral. Di sebelah kiri pintu masuk utama, terdapat menara khas yang dikenal dengan Torre del Micalet. Apabila masuk ke dalam katedral cobalah keluar melalui pintu di samping kubah utama. Kita akan menemukan  beberapa objek wisata lain di dekatnya, seperti Plaza de La Virgen dan beberapa museum arkeologi: Centre Arqueològica de L’Almoina, Museo de Pesas y Medidas (Museum Timbangan), dan Cripta Arqueològica de La Càrcel de San Vicente. Berhubung kami hanya lihat-lihat depan katedral saja, kami pun tidak menyengajakan berkunjung ke museum-museum tersebut. Hehe. Siapa tau, jika teman-teman berkesempatan ke Valencia dan suka wisata museum, tiga museum itu bisa jadi tujuan melancong teman-teman. 😀

 

Katedral ini berada di satu area dengan sebuah taman kota. Berlokasi tepat di seberangnya. Pepohonan hijau meneduhi taman ini, berikut tatanan bunga warna-warni yang menyegarkan mata. Di bawah sebuah pohon, seorang seniman memainkan biolanya. Menghibur para tamu yang makan siang di kafe-kafe. Tak jauh dari situ, sekelompok artisan juga menggelar sebagian hasil karya. Ada gelang, kalung, cincin, dan kerajinan tangan lainnya. Taman ini populer dengan nama Plaça de La Reina. 

img_20181025_142419
Katedral Valencia dengan Menara Torre del Micalet dan Plaça de La Reina di seberangnya

6. Museu Nacional de Ceràmica

Tiga ratus lima puluh meter dari katedral Mas Bou dan Mbak Jou sudah berada di museum keramik beberapa menit kemudian. Pintu museum adalah bagian pertama yang kami lihat. Di sekelilingnya ada pahatan manusia khas bangunan Eropa pada umumnya. Tepat di seberangnya sebuah kafe ramai dengan tamu. Kami berdua masih mengamati apakah gedung ini beneran museumnya atau bukan. Ternyata, memang betul. “Tapi kok sepi amat, ya.” Kami bertukar pandang.

Pantas saja jika sepi, di saat jam makan siang museum memang tutup. Museum ini sebenarnya baru dibuka untuk publik pada 18 Juni 1954 setelah rampung dipugar. Bangunan ini awalnya milik bangsawan bernama Marqués de Dos Aguas. Sebagai bangunan bersejarah yang penting di Valencia, pada 7 Februari 1947 Pemerintah Spanyol kemudian mengubah bangunan ini menjadi museum keramik yang diisi dengan berbagai koleksi keramik milik Manuel Gonzalés. Terbagi menjadi tiga lantai, bangunan ini tidak hanya memamerkan koleksi keramik saja namun juga ada lukisan, porselen, dan lainnya (wikipedia).

Walau tak bisa masuk, mas Bou dan Mbak Jou masih bisa menikmati bangunan ini dari sisi luar kok. Kami menghampiri bangku kosong di sisi timur bangunan. Di depan kami ada air mancur yang kering. Sayang sekali, ya. Padahal kalau ada airnya keliatan bagus lho. Sambil istirahat kami makan keripik kentang dan minum jus jeruk bekal dari rumah.

Air Mancur di Museum Keramik Valencia
Air Mancur di Museum Keramik Valencia

7. Plaza del Ayuntamiento de Valencia

Waktu semakin siang saja, memaksa kami agar meneruskan perjalanan. Apalagi, perut juga keroncongan belum makan siang. Kami memutuskan mengunjungi satu tempat lagi dilanjutkan mencari makan siang, dan terakhir ke tujuan utama: Hiper Asia. Hehehe.

Berjalan kaki ke balai kota Valencia tidaklah jauh. Jaraknya kurang lebih 450 meter dari Museum Keramik. Begitu juga jika hendak ke stasiun hanya perlu menempuh jarak 400 meter dari balai kota. Mas Bou dan Mbak Jou menyusuri jalan di depan balai kota lalu menyeberang jalan raya di depannya. Seberang balai kota adalah alun-alun yang dilengkapi bangku-bangku di sekelilingnya. Di sini, kita bisa duduk-duduk santai sambil menikmati jalanan kota Valencia. Lalu, toko-toko bunga di sisi selatan yang berjejer rapi juga turut menyemarakkan suasana alun-alun. Toko ini menjajakan beragam bunga warna-warni yang cantik-cantik. Di seberang toko bunga itu, tepatnya di sudut jalan ada official store yang menjual marchandise klub sepak bola Valencia. Kami menyempatkan masuk ke toko itu sekadar melihat-lihat, hehehe. Yang kepengin sih sebenarnya Mas Bou.

Selanjutnya ke mana kitaaaaa……… 😀 😀 😀

Jangan kemana-mana, kita akan kembali setelah yang satu ini………..

Penampakan Bullring of Valencia dan Valencia Nord
Penampakan Bullring of Valencia dan Valencia Nord

.

.

.Habis nyeberang, yuk makan siang dulu, nyam..nyam..nyam..

Posted in Pawon Euro

Ayam Penyet a la Jogja

Ingat kan, beberapa waktu lalu kami habis belanja di Hiper Asia. Cabe sebanyak dua bungkus menjadi bagian dari belanjaan kami. Satu bungkus cabe hijau dan satunya lagi seperti cabe rawit yang diimpor dari Vietnam. Lumayan. Masing-masing bungkus harganya 1,44€ dan 1,91€. Lebih mahal lombok rawitnya. Harga segitu, dapat ndak lebih dari 150 gram sepertinya.

Eniwe, saya pun ndak sabar pengen bikin ayam penyet. Hihihi. Kangen deh. Walaupun saya juga bawa dua macam sambal sachetan. Tapi, memang kalo masak sendiri seringkali lebih mantep, kan! Soal bahan-bahan untuk membuat, ya memang kemudian harus menyesuaikan dengan yang ada di sini. Eits, hasil tetap ndak kalah dengan rasa ayam penyet di Jogja, lho. Rahasianya, karena saya bawa gula jawa dan terasi sendiri dari rumah. 😆

Bahan memasak yang agak beda misalnya bawang merah dan daun salam. Cabe hijau yang saya gunakan juga beda, ding. Di sini, nggak ada bawang merah seperti yang kebanyakan ada di Asia Tenggara. Bawang merahnya, yaitu bawang bombay merah. Sementara untuk pengganti daun salam saya menggunakan bay leaf atau dalam bahasa Spanyol disebut laurel.

Bawang bombay merah
Mirip bawang bombay kan, cuma warnanya merah, disebut cebolla rojo

Ngomong-ngomong soal cabe yang saya pakai, bedanya dengan yang ada di Indonesia, cabenya kalo diuleg susah halus. Mirip kalo nguleg cabe hijau besar (bukan cabe teropong tapi ya). Jadi, saya cuma uleg kasar aja. Keburu capek tangannya, hehehe. Ayam di sini juga menurut saya rasanya agak beda dengan yang ada di Indonesia. Terutama di bagian kulit. Di Indonesia, kulit ayam terasa lebih gurih gara-gara lemaknya tebal. 😀

Jika saya beli ayam, seringkali memilih bagian paha ayam atau istilah Jawa-nya pupu-gending (paha atas-bawah, sepaket). Harga jauh lebih murah dibandingkan dengan ayam klocop alias tanpa tulang. Meski begitu, kalau dibandingkan dengan daging sapi, lebih murah daging sapi. Sekilo daging ayam di sini 3,5€ setara dengan 59.000 rupiah, sedangkan daging sapi per kilo-nya 7€ atau setara dengan 120.000 rupiah. Hampir sama dengan harga daging sapi di tanah air ya kayaknya.

Harga ini saya dapatkan karena belanja di toko daging halal. Di warung biasa tempat saya belanja sayur, tersedia berbagai macam daging juga. Harga daging ayam dan sapi jika dibandingkan dengan toko halal, memang lebih murah di warung biasa. Selisih beberapa cents kalo ndak salah. Sekilo daging ayam dengan tulang dibanderol 3 euro saja. Namun, karena tidak berlabel halal tentu saya ndak berani konsumsi. Yah, ndak papa mahal sedikit tapi tenteram makannya. Dan semoga barokah bagi tubuh, tentu saja itu yang diharapkan. 🙂

Ayam penyet ala Jogja-2
Kenikmatan paripurna, bukan?

Oke, deh. Yuk, mari yang mau coba resep saya boleh tengok-tengok di bawah ini 😀

AYAM PENYET ALA JOGJA

Bahan:

2 buah paha ayam (atas dan bawah) *bisa diganti dengan dada ayam

35 biji cabai hijau (pilih yang keriting dan rawit ya, kalo di Indo)

2 buah tomat merah besar

2 buah terasi kotak (saya pakai merek abc)

3 butir bawang merah, iris tipis

5 siung bawang putih

1/2 sdt gula jawa

garam secukupnya

50ml minyak goreng

Bumbu Ungkep Ayam (haluskan):

400ml air

3 siung bawang putih

1/2 sdt ketumbar

3cm jahe

3cm kunyit

Daun salam

Cara Membuat:

  1. Ayam penyet:Panaskan 400ml air, jika sudah mendidih masukkan bumbu halus ungkep dan ayam. Masak sampai ayam matang. Setelah itu angkat dan tiriskan. Goreng ayam hingga kuning keemasan.
  2. Sambel penyet: Uleg cabe agak kasar. Kalo mau halus banget boleh, sesuai selera. Sisihkan. Uleg bumbu sambel: bawang putih, terasi, tomat yang sudah diiris tipis agar lebih mudah dihaluskan. Sisihkan. Panaskan minyak, tumis bawang merah sampai layu. Masukkan bumbu sambel, aduk-aduk merata. Berikutnya masukkan cabe yang sudah dihaluskan. Bolak-balik sambel agar matang merata. Bumbui dengan gula dan garam. Sembari diaduk-aduk sembari diicip. Jika rasa masih kurang pas, koreksi lagi dan sesuaikan dengan selera. Setelah matang angkat.
  3. Hidangkan ayam penyet dengan sambal bersama nasi hangat menul-menul, dan jangan lupa lalapannya ya sesuai kesukaan teman-teman. 😉 Saya cuma punya timun dan kubis di sini. Hehe… Baiklah, selamat mencoba yaa temen-temen semuaaa~~ 😀 😀 😀

img_20181103_115400-02
bikin mupeng kan, liat ayam dan sambelnya?? 😛

BONUS RESEP —–OPOR TELOR— 😀 😀 😀

Temen-temen… air kaldu sisa ngungkep ayam-nya jangan dibuang yaaa~
Kita bisa manfaatkan untuk membuat menu masakan yang lainnya lho, opor telur…yey~ 😀 😀 😀

Selain bahannya mudah, bikinnya juga ndak ribet. Yuk, sini Mbak Jou kasih tau deh resepnya.

OPOR TELUR

Bahan:

Air kaldu

6-8 butir telur ayam rebus, kupas dan tusuk-tusuk pakai garpu

1 buah wortel, potong bulat tebal 0,5cm

5 buah jamur kancing, belah jadi 4

3 batang daun seledri yang besar, potong-potong kecil

300 ml santan kental

200 ml santan cair/air matang

Garam dan gula

Cara Membuat:

  1. Panaskan air kaldu, Tambahkan santan cair/air matang aduk sampai mendidih
  2. Masukkan telur rebus dan santan kental. Aduk-aduk terus supaya santan tidak pecah. Setelah mulai berbuih, masukan batang seledri, wortel, dan jamur. Aduk merata. Bumbui garam dan gula. Aduk-aduk terus sambil dikoreksi rasanya. Jika sudah terasa pas, segera angkat.
  3. Hidangkan saat panas dengan taburan bawang goreng dan sambal terasi. Hemm,, sedaap~~

Opor Telur Dapurdi
Cocok untuk menu sarapan pagi. Nasi bisa diganti lontong/kupat