Posted in HALAL Life in Europe, Plesirannya Keluargaismail, Urip Neng Jerman

Jelajah Seharian Kota Regensburg (2)

Pukul 9.15 kereta tiba di stasiun Regensburg. Keluar dari kereta, kami mencari ATM untuk menarik uang. Selanjutnya, kami turun ke lantai dasar untuk menuju luar stasiun. Kondisi tak begitu ramai sebab hari Ahad. Toko-toko pun banyak yang tutup.

Bukanlah sebuah kota besar, menjadikan bahnhof Regensburg juga tak begitu besar. Di bagian bawah berderet kios makanan dan ada juga counter pusat informasi yang terletak tepat sebelum pintu utama (masuk/keluar). Di sini, pengunjung bisa juga membeli tiket kereta DB (Deutschbahn).

Bahnhof Regensburg tampak dari depan di waktu petang

Berdasarkan itinerary yang kami susun, penjelajahan kami akan dimulai dari titik terjauh di sebelah timur, yaitu Donaustauf Castle lalu kembali ke pusat kota (di sekitaran stasiun Regensburg) untuk mengunjungi destinasi di sekitaran sana dan akan diakhiri dengan makan besar sebelum nantinya pulang lagi ke Muenchen.

Sengaja kami memilih lokasi-lokasi yang juga strategis agar tidak jauh balik ke stasiunnya. Mengingat hari Ahad, (ini penting dicatat, ya 😉) bus yang beroperasi jadwalnya tidak sesering pada hari kerja. Paling apes kalo harus nunggu bus yang baru ada sekitar 30 menit atau sejam sekali. Waduh, yang ada malah jadi wisata naik bus, bukannya jelajah kota. Afufu~ 🤭

Oke, enggak perlu lama-lama. Mari, kita kemon ke Donaustauf Castle. Gabsida! 🚍

1. Donaustauf Castle
Bus ke arah destinasi ini bisa dijangkau dengan bus no. 5. Haltenya berjarak 200 meter dari stasiun. Hanya memakan waktu perjalanan sekitar 25 menit. Bus nantinya akan menurunkan kita di halte Donaustauf Bayerwaldstrasse. Dari sini, kami tinggal jalan kaki menuju kastilnya.

Turun dari bus, kami langsung menyeberang jalan dan mengambil arah lurus di depan kami, lanjut belok ke kiri. Selain “merasa yakin” sudah lihat G-Maps, di depan kami juga ada seorang ibu dengan dua anaknya yang berpakaian seperti petualang. Oh, kita sama, nih, tujuannya. Pikir kami. Namun, secepat kilat mereka telah raib dari pandangan kami.

Kami merasa bahwa jalan yang ditempuh sudah benar sehingga tak sadar jika di depan sana ada percabangan ke kanan dan kiri. Lalu kami mengambil jalan ke arah kiri. Soalnya, yang kanan menanjak, Cui, dan terlihat seperti ke arah perumahan. Kayaknya enggak mungkin, deh. Batin kami. Sotoy! 😁

Ternyata…oh, ternyata. Memang kami keliru. Hahaha. Jalan yang kami ambil tersebut endingnya ke makam, Kisanak. 😂 Pantesan, di sepanjang jalan orang bingung melihat kami, ini dua orang pada mau ke mana? Mau ngapain? Hahaha.

Meski begitu, orang-orang yang kami temui pun ramah menyapa. “Halo”, “Servus”, begitu ujar mereka. Orang-orang ini juga ternyata hendak menghadiri acara keagamaan. Beberapa anak juga terlihat mengenakan baju tradisional “drindl” dan sepertinya mereka akan menghadiri sekolah Minggu.

Sebelum masuk ke area seperti hutan dan kastilnya, ada taman kecil yang ditanami berupa-rupa bunga di kanan-kirinya. Ada juga papan informasi yang menyajikan histori kastil ini dari dulu hingga sekarang. Setelah melewati bagian taman kecil, kami bertemu dengan makam lagi (kali ini lebih luas) yang terletak di sebelah kanan. Banyak orang sedang berziarah kubur, mengunjungi orang tercinta yang telah tiada.

Kami melanjutkan perjalanan. Tak seberapa jauh dari makam tersebut sudah bisa kami jumpai gerbang utama kastil ini. Semakin masuk ke dalam, semakin menyenangkan. Tujuan utama dan pertama mengunjungi kastil ini adalah untuk melihat Regensburg dari atas, sebelum nanti kami menjelajahi jantung kotanya.Yey!

Dan, masya Allah. Indah banget pemandangan dari atas sini. Sejauh mata memandang tampak Sungai Danube melintang dari arah barat (kota Regensburg) hingga ke timur. Ada juga sebuah danau dekat situ yang bermuara ke sungai. Kami juga bisa melihat pemukiman penduduk sekitar berbaris tertata rapi menyenangkan mata.

Sungai Danube ini, menurut info yang Mbak Jou baca di papan informasi di kastil ini, menjadi sungai yang keberadaannya penting bagi rute penyebaran flora dan fauna. Pada zaman dulu, ikan yang bernama Hausen bahkan bisa memiliki panjang hingga 6 meter dan bermigrasi dari Laut Hitam (Black Sea) lalu mereka beranak-pinak di sepanjang aliran Sungai Danube di Regensburg ini.

Sayangnya, akibat adanya pembangunan yang menyebabkan Sungai Danube terintangi olehnya, ikan-ikan ini tak lagi muncul keberadaannya. Dampaknya juga berpengaruh pada fauna lain, yakni spesies Meadow-birds seperti curlew dan lapwing (burung pipit, kayaknya dalam bahasa Indonesia, kasih tahu ya kalo Mbak Jou keliru 😁). Mereka masih hidup hingga beberapa dekade yang lampau, tapi kini menghilang. 😥

Puas menikmati cahaya mentari dan melihat hamparan pemandangan Regensburg dari atas kastil, kami membuka bekal. Mie goreng kebanggaan kita semua. Apa lagi, ya kan…? Teman-teman pasti fasih dengan jenama mie instan ini. Afufu~ 🤭

2. Masjid DITIB Regensburg
Menggunakan bus no. 5 ke arah kota, kami berangkat menuju Masjid DITIB Regensburg untuk menunaikan sholat dzuhur sebelum nantinya fokus jalan-jalan ke pusat kota. Setelah transit sekali dan berganti bus (no. 30) kami tiba di daerah pinggiran yang merupakan kawasan pabrik gitu. Hanya berjalan beberapa meter saja, menara masjid dengan ciri khas bentuk “bulan sabit” telah bisa kami jumpai. Tepat di saat Mas Bou dan Mbak Jou sampai, adzan sedang dikumandangkan.

Masjid ini tampak masih baru. Masih dalam proses pembangunan berkelanjutan. Kami masuk lewat pintu utama dan langsung disuguhi meja berisi lembaran daftar hadir yang telah penuh terisi. Kami memasukkan data diri (nama dan nomor kontak) dan naik tangga menuju lantai atas. Tersedia juga lift untuk jemaah yang kesulitan mengakses tangga.

Untuk jemaah perempuan, harus naik lagi satu lantai karena area sholatnya terpisah dengan jemaah laki-laki. Tipikal masjid Turki yang biasa Mbak Jou temui di sini. Kondisi saat itu cukup sepi, tidak ada jemaah perempuan lain. Mbak Jou meringkas sholat dzuhur dan ashr menjadi 2-2 alias mengqasharnya karena jarak safar kami telah memenuhi syarat melebihi 80 km.

Selesai sholat, kami cekrak-cekrek sebentar di dalam masjid lalu berpamitan kepada pengurus masjid. Oiya, di lantai dasar tadi ada juga vending machine yang bisa pengunjung akses jika ingin membeli minuman. Menarik juga masjidnya. Terlihat sederhana desainnya, sekaligus keren. Jika melihat foto-fotonya yang beredar di internet, masjid ini juga terlihat megah pada saat petang, ketika maghrib. Temboknya akan “berubah” kemerahan karena tersinari cahaya lampu. Mengingatkan Mbak Jou akan istana Al-Hambra di Andalusia, Spanyol. 😍 🥰

Alamat masjid ini adalah Maxhüttenstraße 3, 93055 Regensburg.

Baiklah, saatnya kami melanjutkan penjelajahan menuju pusat kota Regensburg. Jalan kaki dulu, yaa, ke halte busnya. Yuk.

Posted in Plesirannya Keluargaismail, Urip Neng Jerman

Jelajah Seharian Kota Regensburg (1)

Sakjane, saya grogi mau nulis. Ya, karena lama sudah ndak nulis di sini. 😁 Tapi, ya enggak apa-apa lah ya, setahun sekali diisi blog ini daripada tidak sama sekali. 😝

Oke. Ahad lalu (26/09) Mas Bou dan Mbak Jou spontan (uhui!) jalan-jalan ke salah satu kota yang masih masuk kawasan Bavaria (Bayern). Kenapa kok spontan? Lha, iya. Sabtunya itu, sepulang Mbak Jou nongkrong syar’i bareng ukhti-ukhti di sini, Mbak Jou tumben banget semangat nanyain Mas Bou soal acara weekend kami yang sebetulnya masih kosong. Tumben, karena biasanya yang semangat ngajakin itu ya, Mas Bou.

Siapa lagi?! :v

👩‍🍳 Besok ini, kita mau jalan ke mana, Mas Bou? Pengen ke selatan tapi kok kayaknya enggak cukup, ya, waktunya? (Sembari melihat-lihat peta di Google-Maps)
👨‍💻 Wah, iya… kalo ke situ harus nginep. (“situ” yang dimaksud adalah sebuah destinasi dekat Bayern tapi sudah beda negara). Wah, enggak bakal cukup kalo sehari. Gimana, kalau kita ke danau aja?
👩‍🍳 Hmm.. Kok lagi males, ya.. (Sambil memantau cuaca di aplikasi yang ternyata kurang pas kalau acaranya ke alam). Main ke Regensburg aja, po? Dekat juga kok kalau naik kereta. (Langsung gercep cari-cari destinasi di kota tersebut)
👨‍💻 Boleh juga. Yaudah, kamu cari-cari dulu ya tujuannya aku tak mandi dulu. Nanti aku lanjut bantuin prepare-prepare. 😁
👩‍🍳 Haduuh, yawes sana mandi-a (Nengok jam yang memang sudah makin malam. Kudu sak-sek ini, biar besok bisa berangkat pagi-pagi dan bisa optimal halan-halannya) 🤩 *semangat 45*

Demi mengantisipasi keriweuhan pagi buta. Maka kami putuskan untuk menyiapkan keperluan di malam itu. Nyicil mandi dulu biar enggak mager kalau pagi-pagi. Nyeterika baju yang mau dipakai esok hari (kegiatan paling enggak Mbak Jou sukai sebenernya ini 🤧) dan merencanakan bekal yang mau dibawa. Tak kalah pentingnya adalah mengatur rencana jalan-jalannya, yakni mencari destinasi menarik yang ingin kami kunjungi. Lantas menyimpannya dalam fitur “saved” Google-Maps. Dengan begitu, memudahkan kami untuk melihat jarak antardestinasi, durasi waktu perjalanan, serta opsi terbaik untuk mengawali sampai mengakhiri penjelajahan kami. Beberapa poin yang masuk dalam catatan kami: spot wisata ikonik dan menarik, warung makan untuk memuaskan hasrat wiskul kami, dan masjid untuk menunaikan sholat.

Setelah dirasa cukup info yang kami perlukan, lalu kami tiduuur gasik. Harus mengejar kereta pertama, Cui! Pukul 7.40 dari Stasiun Muenchen.

🐔🐔🐔 “Kukurru-yuuukk…” bunyi ayam jago. Eh, lupa ding, di sini enggak ada ayam. 😆 Ternyata, Mbak Jou terbangun karena bunyi alarm ponsel. Masih mager. Tapi, langsung makgregah sekonyong-konyong teringat jadwal kereta yang harus dinaiki jam setengah delapanan. Jangan sampe ketinggalan! 🤣

Ilustrasi perjalanan yang kami tempuh pada Ahad 26 September lalu

Sudah jam 7.20-an, kami tergopoh-gopoh berjalan menuju halte tram yang berjarak 450 meter dari rumah kami. Awalnya, Mas Bou mau membeli tiket Bayern di mesin tiket yang ada di halte. Eh, lha, malah duitnya enggak cukup. Mbak Jou pun lihat di dompet, kurang juga. 😅 Sungguh, kenapa bisa lupa ngecek hal yang esensial seperti ini malahan. Hahaha. Lalu, kami mencoba membayar dengan kartu, tapi mesinnya juga enggak mau menerima. Haduh. Alhamdulillaah, sambil menunggu tram datang, masih sempat beli secara daring via aplikasi DB. Nah, tips terakhir ini bisa dicoba juga. Lebih mudah dan praktis. Cuma, perlu memastikan juga, ya. Baterai ponsel kalian awet biar pas ada pengecekan tidak merepotkan gegara gawaimu kehabisan daya. 😆 Terutama pas perjalanan pulang kembali ke rumah.

Untuk tiket bayern ini, bisa digunakan juga selama kita menggunakan moda transportasi bus di kota Regensburg. Jadi, kalian tidak perlu membeli tiket ekstra. Oiya, info tambahan, di kota Regensburg sudah tidak perlu memakai masker FFP2 saat kami ke sana, jadi memakai masker medis pun tidak masalah.

Yuk, langsung aja capcus ke bahnhof, keretanya nanti ngetem, di plafon 26.

Jelajah Regensburg Bareng Cerita BOJO

Posted in Ceritanya Mbak Jou

Behel WOW Behel #2

Sudah tahun 2020.

Setahun delapan bulan lalu, akhirnya Mbak Jou bebas dari kawat gigi 😀

Kali ini, Mbak Jou ingin berbagi pengalaman dan cerita dari serangkaian proses perawatan kawat gigi yang Mbak Jou jalani.

Aslinya, topik ini sudah lama ingin Mbak Jou tulis, tetapi kemalasan memang musuh yang nyata. Hahaha. Ah, masa sih? Ya, sering kali karena sudah lelah dengan aktivitas lainnya, keinginan menulis jadi dinomor-sekiankan. 🙈 Duhh, kacau nih skala prioritasku! 😓

Hikmah dari masa pandemi ini, kanal ini dilirik lagi deh oleh Mbak Jou. Hihi. Alhamdulillah, jadi bisa mengerjakan hal yang sempat tertunda.  Oke, mari kita mulai aja, ya. 😉

Oya, kalo teman-teman belum mengikuti tulisan ini dari awal, silakan membacanya di sini

Semasa Perawatan Kawat Gigi: Kisah Lucu nan Menggelikan

Bagi yang melakukan perawatan gigi, pasti pernah mengalami kejadian-kejadian unik seputar pasang kawat gigi.

Jika menelan karet gigi dan breket pun sudah pernah Mbak Jou alami. Kisah unik satu ini tak luput menimpa juga.

Saat itu tengah triwulan akhir tahun 2016, seperti biasa, Mbak Jou melakukan kontrol rutin kawat gigi. Perawatan kawat gigi dengan teknik “konvensional” ini mengharuskan dokter memotong terlebih dahulu kawatnya sebelum sekrup pada masing-masing breket dibuka. Nahasnya, ada sepotong kecil kawat yang tertinggal di dalam mulut. Aktivitas berkumur usai kawat dipotong rupanya tidak berhasil mengeluarkan semua potongan kawat.

quang-tri-nguyen-VxVO1zrY5F8-unsplash
credit to: @quangtri

Potongan kawat kecil ini kemudian ikut tertelan dan tersangkut di kerongkongan. Hehe. Seberapa besar sih ukuran potongan kawat ini? Kecil banget. Enggak ada setengah sentimeter bahkan, hanya sekitar dua atau tiga milimeter saja.  Tapi, namanya masuk ke organ yang sangat sensitif, sekecil apapun pasti terasa mengganggu jika itu benda tak diharapkan.

Usaha mandiri sudah dilakukan untuk mengeluarkannya secara alami. Mulai dari menelan makanan bulat-bulat, mengguyur dengan air bahkan minyak kelapa, sampai berusaha terbatuk atau terkaget. Tetap saja, nihil. Kami pun memutuskan ke dokter THT bersama dengan dokter gigi yang merawat Mbak Jou.

Di ruang periksa, selain dokter utama, ada beberapa dokter residen THT. Saat dokter Mbak Jou menjelaskan masalahnya, serta merta Mbak Jou jadi pusat perhatian lantaran kejadian unik ini.

Dokter THT menyuruh Mbak Jou duduk di kursi periksa dan membuka mulut lebar-lebar. Beliau menyemprotkan cairan anastesi rasa buah, yang membuat area mulut Mbak Jou berangsur-angsur terasa kebas. Sembari menjelaskan prosedur dan instruksi yang harus Mbak Jou patuhi, beliau memasukkan alat endoskopi melalui hidung yang menembus ke saluran kerongkongan. Rasanya memang tidak nyaman ya akibat ada benda asing masuk ke dalam organ kita. Meski sudah mendapat anastesi lokal sekali pun. 😀

Mbak Jou jadi geer gara-gara dokter residen melihat dengan tatapan saksama. Padahal, sebenarnya fokus ke alat endoskopi yang masuk ke mulut. Hahaha. Tak mau ketinggalan, Mbak Jou ikut melirik ke layar dan mengamati bagaimana perjalanan alat tersebut menyusuri rongga hidung hingga mencapai kerongkongan. Aduh, ketahuan deh banyak makan gorengan! 😀

balon senyum
credit to: @artbyhybrid

Dokter THT memutar-mutar selang ke kanan dan ke kiri. Mencari di mana kah gerangan sang potongan kawat mungil ini. Tak kelihatan apa-apa selain penampang kerongkongan yang basah. Memang, saat alat tersebut masuk, sebagai respons pertahanan tubuh, Mbak Jou seperti mau muntah menolak alat itu masuk. 😀 Barangkali, karena gerakan itu potongan kawat mungil jadi terdorong ke bawah ke bagian pencernaan. Hehehe.

Akhirnya, beliau menyarankan untuk melakukan pemindaian tubuh menyeluruh. Demi memastikan posisi kawat tidak membahayakan organ di dalam tubuh. Lucu banget. Hanya karena sepotong kawat kecil Mbak Jou menyicipi prosedur MRI. 😀

Serangkaian pemeriksaan MRI rampung dijalani dan dokter THT menyatakan tidak ada lagi potongan kawat yang tampak. “Mungkin sudah ikut turun tadi. Ini saya enggak menemukan apapun, lho”, terang dokter di ruang periksanya.

Memang, usai tindakan endoskopi Mbak Jou tidak merasa ada yang nyangkut lagi di kerongkongan. Namun, efek tidak nyaman akibat alat tersebut masuk masih bisa terasa.

Akhirnya lega sekaligus timbul rasa iba menyeruak. Bagaimana tidak, semua biaya tindakan di atas ditanggung penuh oleh dokter yang merawat Mbak Jou. Beliau pun menolak untuk berbagi biaya dengan kami. “Ini sebagai bentuk tanggung jawab moralku, Dek.” Duh, kan jadi pekewuh….

Hikmah bagi kami, antara dokter dan pasien: hubungan kami menjadi makin baik. Sebelumnya juga sudah baik, sih. 😀  Tak ada masalah dengan kontrol-kontrol berikutnya, semua normal dan berjalan natural. Kami masih saling curhat saat jalannya kontrol dan juga menertawakan hal-hal kecil bersama.

Suatu ketika, beliau nyeletuk, “Kejadian yang dulu itu, bener-bener jadi pembelajaran buatku, lho, Dek. Biar lebih hati-hati lagi. Juga buat pelajaran temen-temen dokter yang lain juga.”
“Ha..ha.. aku juga, Dok. Kalau kumur-kumur harus kupastikan yang di dalam keluar semua. Hihi.” Kami pun cekikikan bareng.

Bonusnya, beberapa bulan setelah itu, Mbak Jou mendapat perawatan kawat gigi dengan teknik lain secara cuma-cuma. Wah, senangnya. 😍

Sebenarnya, bonus ini bukan semata gara-gara peristiwa ini sih. Justru, sebelumnya dokter Mbak Jou memang sudah menjanjikan akan mengganti sekrup dengan karet warna-warni. Hihi.. seru juga. Karet warna-warni jadi bikin gigiku terlihat unyu-unyu. Hahaha. Makasiiih ya, Dok~~🥰🥰

 

Cerita berikutnya :

Bagaimana rasanya jika harus kehilangan gigi dalam jumlah banyak? Mungkin, teman-teman sudah tahu, ya… Pada seri pertama tulisan ini, dikisahkan ada beberapa gigi Mbak Jou yang harus dicabut. Tak dinyana, prosedur cabut gigi harus Mbak Jou lakukan lagi. Apa masalahnya? Tunggu kisah berikutnya! 😉

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Ceritanya Mbak Jou, Kompetisi Blog

Aku Berani Jadi Narablog pada Era Digital

Narablog? Baru pertama kali ini Mbak Jou ketahui. Secara ndak sengaja kala itu, sedang bermain instagram, muncul informasi lomba blog “Kompetisi Blog Nodi” di linimasa instagram Mbak Jou. Rasa penasaran makin meningkat ingin tahu, apa sih arti narablog? Lantas, Mbak Jou melakukan jelajah blog atau blogwalking ke beberapa blog orang lain termasuk blog Nodi Harahap. Dari mereka arti narablog Mbak Jou ketahui, yaitu terjemahan bahasa Indonesia untuk istilah blogger. Wah, bagus dong. Bahasa Indonesia memiliki istilah sendiri untuk menyebut orang yang gemar membuat karya tulisan di blog (web log).

Dunia blog tak pernah terbayang sebelumnya di benak Mbak Jou. Yang Mbak Jou inginkan hanya menulis, karena Mbak Jou senang bercerita. Walaupun demikian, ada kendala yang dihadapi, yakni ketakutan diri. Minder, ketika melihat orang lain bisa menulis dengan bagus. Ah, bisa ndak ya aku membuat tulisan yang menarik seperti itu? menjadi sebuah kalimat yang terus-menerus bergaung di kepala Mbak Jou. Pertanyaan diri seperti ini selalu menciutkan nyali dalam belajar menulis.

Pada tahun 2012,  akhirnya memberanikan diri, membuat sebuah tulisan catper atau catatan perjalanan tentang naik gunung. Ketika itu, Mbak Jou menuliskan semua hal yang ingin diceritakan. Tanpa jeda. Alih-alih terangkai isi cerita yang menarik. Susunan kalimat dalam satu paragraf malahan terlalu panjang. Tentu saja membuat lelah dan bosan bagi yang membaca.

Perasaan galau menguasai, merasa tidak mampu menghasilkan karya tulis yang baik. Sebab, menyusun kata masih serampangan. Tidak tahu mana yang baku, mana yang bukan. Bingung cara menggunakan tata bahasa yang baik dan benar. Ilmu menulis serta penguasaan digital pada saat itu juga masih minim dimiliki. Cerita pun berakhir dengan berhentinya Mbak Jou menulis.

Keinginan menulis kembali menyapa Mbak Jou, bagaikan sebuah panggilan jiwa. Lantaran hasrat bercerita yang menggebu-gebu. Mbak Jou pikir, kenapa tidak, jika cerita Mbak Jou kepada khalayak luas bisa memberikan kemanfaatan yang lebih jauh? Akan tetapi, kebingungan kembali membayangi. Rasa minder dan takut masih terus menggerayangi. Bagaimana cara memulainya? Lagi-lagi, Mbak Jou bertanya-tanya dalam hati.

Tulisan tak kunjung dihasilkan. Bulan demi bulan, yang akhirnya berganti tahun. Nihil. Kepada teman-teman yang lebih dahulu memulai, Mbak Jou berguru. Bagaimana cara membuat tulisan yang bagus? Apa yang harus dilakukan untuk memulai sebuah tulisan? Beragam artikel dan buku Mbak Jou pelajari. Belum ada titik cerah. Tak ada satu pun karya dapat ditelurkan. Namun, keinginan itu masih ada di sana. Terus menyala.

Benar saja. Tuhan selalu bersama dengan hamba-Nya yang berprasangka baik. Manakala pendar cahaya itu dijaga dengan baik, maka jalan-jalan menuju impian itu akan semakin terang benderang.

Bersama kesulitan ada kemudahan. Manusia hidup, senantiasa mendapat ujian dari Sang Pencipta. Sebagai bukti kesungguhannya.

Pada waktu yang bersamaan, Mbak Jou gemar menuangkan perasaan hati ke dalam tulisan yang berwujud diari. Jika hati sedang gembira Mbak Jou menulis. Jika hati gulana Mbak Jou kian bersemangat menulis. Sungguhpun sebagai terapi jiwa, siapa sangka, hal ini justru menjadi kesempatan mengembangkan diri. Perlahan namun pasti, anak tangga menuju impian menulis sedang Mbak Jou susun sebenarnya. Diari menjadi alat merangkai rasa. Dari kata-kata hingga makna penuh warna.

Ada sebuah hal penting, yakni bola semangat yang harus tetap bergulir. Nyala-terangnya harus terus dijaga dengan baik. Sebab, menjaga keajegan tidaklah mudah. Mas Bou sebagai mentor pertama dan utama, sangat berperan dalam proses ini. Mas Bou adalah penyemangat tak kenal lelah yang selalu mendorong Mbak Jou maju berkarya.

Yang penting kuantitas dulu, perbanyak menulis. Kualitas bisa menyusul nanti,” pesan Mas Bou kepadaku berulangkali.

Di suatu sudut diri, rupanya masih ada momok minder dan takut yang membayangi. Apa yang harus kulakukan? Hadapi. Menulislah. Apa saja yang  ingin engkau tulis. Jangan pikirkan dulu tulisanmu akan menarik atau tidak. Tulis saja. Engkau tak akan pernah tahu hingga engkau mencobanya.

Pada tahun 2016, Mbak Jou mengawali tulisan pertama di blog “keluargaismail” dengan bercerita mengenai pengalaman. Perlu waktu lebih dari tiga hari, seingat Mbak Jou, agar tulisan itu rampung. Setelah usai menulis, berkali-kali Mbak Jou melakukan swasunting. Deg-degan dengan hasil karya sendiri. Sudah betul atau belum ya penulisan kalimatnya?

Sebagaimana orang yang sedang jatuh cinta, tak bosan-bosannya Mbak Jou membaca ulang tulisan perdana itu. Seakan tak percaya bahwa, Mbak Jou berhasil melawan ketakutan dalam diri. Terlebih lagi, blog adalah hal baru bagi Mbak Jou. Berbagai hal teknis mengenai tampilan, pengaturan blog, dan sederet perkara digital awam Mbak Jou ketahui.

Tanpa rasa bosan, Mas Bou telaten mengajari Mbak Jou berkenalan dengan blog. Di tengah proses belajar tersebut, pada suatu hari, Mbak Jou ketahui ada segelintir orang yang membaca tulisan Mbak Jou. Betapa senang hati ini! Kegembiraan yang bertambah tatkala ada orang yang mengapresiasi dengan kesediaan mereka membaca tulisan Mbak Jou.

“Wah, ndak nyangka ada yang mau membaca tulisanku,” pekik Mbak Jou kegirangan.

Momen ini bagaikan suntikan semangat yang Mbak Jou peroleh dari luar. Hingga kini pun, hati selalu bahagia jika tulisan yang Mbak Jou posting diapresiasi oleh orang lain baik dengan dibaca maupun diberikan komentar.

Statistik Pembaca Keluargaismail tahun 2019
Dokumentasi pribadi. Dukungan dari berbagai penjuru dunia. Terima kasih kepada pembaca blog keluargaismail!

Kebahagiaan turut menulari diri Mas Bou. Melihat sang isteri penuh semangat dan punya gairah baru mewujudkan impiannya. “Ayo, sudah menulis lagi belum?,” begitu tanya Mas Bou menyemangati Mbak Jou ketika hasrat menulis sedang mengendur.

Tak ingin menyia-nyiakan dukungan dan rasa percaya dari Mas Bou, Mbak Jou berlatih terus untuk menulis. Seringkali kami berlomba, selain dengan kesibukan harian, menulis di blog kami masing-masing. Bulan ini menulis apa? Sesekali, kami selingi dengan berbagi informasi supaya kapasitas diri dalam menulis meningkat. Ayo, ikut grup ini dan itu. Ayo, bergabung dengan komunitas ini dan itu. Mereka bisa menjadi sarana penguat semangat menulis, lho.

Lambat laun, tulisan di blog makin banyak dan berwarna. Pembaca blog bertambah dari segi jumlah dan jangkauan area. Semangat menulis kian menggelora. Jati diri menulis pun Mbak Jou temukan. Gaya penulisan, konten blog, dan niche mulai bisa terarah. Artinya, kemampuan menulis dituntut supaya terus dikembangkan.

Logo Blog Keluargaismail
Dokumentasi pribadi. Logo situs blog

Bagi Mbak Jou, blog “keluargaismail” ini ibarat majalah digital. Sejak awal, judul blog dan alamat situs blog sudah Mbak Jou buat secara spesifik. Begitu pula dengan slogannya, yaitu Ceritanya Mas Bou dan Mbak Jou. Personalisasi dan spesifikasi ini bertujuan untuk menjelaskan identitas blog ini. Pembaca dapat menemui beragam rubrik cerita, sesuai slogan blog ini, di dalam kategori-kategori blog ini.

Menemukan info “Kompetisi Blog Nodi” menjadi sebuah momentum bagi Mbak Jou belajar tentang dunia blog dengan lebih baik lagi. Di era digital ini, kita tak harus belajar melulu via luring (luar jaringan). Seperti Mbak Jou yang sekarang berada jauh dari tanah air, dengan cara daring (dalam jaringan), Mbak Jou tetap bisa belajar mengembangkan diri utamanya di dunia menulis.

Terpisah oleh jarak dan waktu dengan tanah air, tak menyurutkan semangat dan langkah menimba ilmu kepada rekan-rekan senior narablog lain seperti, Joe Candra, Nabilla DP, dan juga Khrisna Pabhicara. Nodi Harahap telah memberi sumbangsih kepada Mbak Jou dalam proses mempelajari dunia blog. Mengenal mereka sebuah kesyukuran luar biasa, teringat akan masa-masa terpuruk saat titik cerah belum ditemukan.

Menceburkan diri dalam komunitas yang sama, sangat berdampak pada terjaganya semangat mengembangkan diri. PR Mbak Jou pada tahun ini, yakni menjaga konsistensi menulis. Tak ada cara lain selain memperbanyak karya menulis. Karena di sanalah medan perang yang sesungguhnya. Mengasah kemampuan tiada henti agar diri berprestasi.

Ketakutan yang semula ada, akhirnya mampu diatasi. Nyatanya, ketakutan itu datang dari diri sendiri. Kita hanya perlu mau mencoba dan bangkit menghadapinya. Jalan akan selalu terbentang bagi mereka yang bersedia mencari. Setelah ini, Mbak Jou akan belajar ikut lomba blog lainnya. Sarana baik untuk menjajal kemampuan dan rasa percaya diri demi belajar sepanjang hayat. Kalian juga ingin jadi narablog? Yuk, kita pasti bisa!

 

Posted in Ceritanya Mbak Jou, Urip Neng Spanyol

Memenuhi Undangan Minum (Jus) Tomat?

Seperti biasa, usai pelajaran di kelas aku dan Mbak Sayuti (pakai nama samaran) segera keluar kelas. Kami berjalan beriringan sampai nanti berpisah di dekat gerbang sekolah SMA seberang lembaga kursus kami. Aku tak bisa berbahasa asing selain bahasa Inggris untuk berkomunikasi di sini. Sedangkan dia, hanya bisa berbahasa Arab dan berbahasa Spanyol. Jika mengobrol berdua, alamaak… gemas-gemas gimanaaa gitu. Pengen pakai google translate, kok ya rempong-marempong. 😆

“Besok kamu ke rumahku, ya. Kita minum tomat bareng-bareng. Di rumahku.” Begitu kata Mbak Sayuti sebelum kami berpisah.

Hah, minum jus tomat? Beneran nih, minum tomat! 

Waduh, aku kan ndak suka jus tomat. Batinku.

“Hoo-ooh. Sí. Sí. Vale. Vale.” jawabku nglegani. Tapiii… ya karena bingung juga mau jawab apa. Wong belum bisa ngomong panjang kali lebar.

(Oooh. Ya. Ya. Ya. Oke. Oke.)

Adios. Ma’a salamah.

Ma’a salamah.

Dan kami pun berpisah.


Sesampainya di rumah, aku menceritakan pada Mas Bou soal undangan minum jus tomat dari Mbak Sayuti ini.

“Wah, gimana ya. Aku kan ndak suka minum jus tomat. Tapi masak aku nolak, sih.”

Yowes, dateng aja. Nanti kalo disuguhin jus tomat ya teko dinikmati saja, tho. Lagipula kan buat menjalin keakraban. Sambil latihan ngomong bahasa Spanyol.”

“Hemm … iya juga ya. Atau, besok kalo disuguhin jus tomat, aku tak minta teh aja apa ya?”

“Ya. Bisa juga sih …. tapi yo teko dateng aja. Jangan lupa bawain oleh-oleh.” Imbuh Mas Bou.

“Oh, iya. Wah mbeliin apa ya … buah aja apa ya … kan netral.”

“Iya, besok mampir beli dulu sebelum berangkat. Ke Consum aja, kan deket tuh.”


Waduh! Aku bakal telat banget, nih. Tapi untungnya aku sudah kirim pesan ke whatsappnya Mbak Sayuti. Hemm, mau ngobrolin apa ya nanti. Pikirku sembari mengayuh sepeda bicicas menuju rumah Mbak Sayuti.

Mentari cukup terik pada sisa-sisa musim panas ini. Membuatku sedikit berkeringat. Tinggal satu belokan lagi, terus sampai di stasiun bicicas nomor lima puluh delapan. Jalan kaki kurang dari lima menit ke apartemennya. Kayaknya bakal pas deh perhitunganku. Telat 20 menit-an. Hosh…hosh…hosh.

Langkahku sudah dekat ke arah apartemennya. Kulihat foto yang kuambil kemarin di ponselku, mencocokkan nama jalan yang kemarin ditunjukkan Mbak Sayuti padaku. Oh, betul ini dia rumahnya. Batinku.

Di depanku ada seorang perempuan berjilbab yang baru saja memencet salah satu bel di rumah itu. Dia pun secepat kilat masuk segera setelah pintu pagar terbuka.

Yaah, kalah cepat deh aku. Niat hati mau masuk bareng. Ya, sudahlah. Kucari nomor rumah Mbak Sayuti di panel bel dekat pintu pagar. Ini dia, nomor empat. Lantas kupencet nomornya. “Tetttt”

“¿Sí?” terdengar suara dari seberang. (Ya?)

“Assalamu’alaykum. Soy Jou.” Jawabku (Assalamu’alaykum. Saya Jou.)

“Ah, Vale … Vale.” (Oh, ya. Oke … Oke.)

“Ctegg”

Aku pun masuk ke dalam. Celingukan ke kanan dan ke kiri mencari lift. Huhu, ndak ada. Baiklah, olahraga belum selesai. Mari berjuang ke lantai empat. 😀

Waduh, kok rame ya. Jangan-jangan orang tadi datang juga ke rumah Mbak Sayuti. Waduh… kumpul ibu-ibu dong. Krik…krik…. Antara senang, bingung, dan galau. 🙄

“¡Hola! ¿Como estás?” (Halo, apakabar?)

“Muy bien, muy bien, alhamdulillaah.” Jawabku yang cuma hafal kata-kata itu. Ahaha. (Baik, baik, alhamdulillaah)

Sini. Sini, masuk ke sini. Kata Mbak Sayuti membimbingku ke ruang tamunya. Kuserahkan padanya buah tangan yang sudah kusiapkan.

Eh, buset deh. Beneran kan cyiin. Kulihat ada banyak perempuan berkumpul di ruang itu. Rame banget. Sudah ada sekitar tujuh orang –belum termasuk diriku dan Mbak Sayuti– duduk di sofa yang melingkari ruang tamu. Acara apakah gerangan yang kuhadiri ini? Kataku dalam hati. wkwkwk. Salah acara nih. 😆

Semua orang kusalami satu per satu, cipika-cipiki, sambil kuperkenalkan namaku. Mereka tersenyum. Bahagia menyambutku. Halah. Padahal aslinya, aku sendiri yang kikuk. Merasa jadi alien. Aduh, kalau ini beneran aku yang lagi ada di negeri antah berantah deh. Everyone speaks Arabic, except me!

This slideshow requires JavaScript.

Kupandangi meja di tengah. Penuh dengan kue-kue, tapi tak kulihat satu gelas pun sosok jus tomat di atas meja itu. Insting detektifku langsung menguat. Sepertinya acara ini bakal lama. Semacam arisan ibu-ibu gitu kayaknya. Aduh, aku harus ngomong apa ini. Bakal salting banget. Bakal garing banget. Pada saat inilah rasanya aku ingin melambaikan tanganku ke arah kamera. 😕

Diriku pun hanya bisa senyum-senyum gak jelas, speechless. Kuamati mereka satu per satu. Berusaha mencari tahu apa yang sedang diobrolkan. Mereka ketawa, aku pun ikut-ikutan ketawa. Sok tahu, padahal enggak ngerti sama sekali. Hihihi. :mrgreen: Di antara mereka tak tampak ada yang bisa berbahasa Inggris. Aduh, kayaknya aku kena jebakan batman. Lantas aku terpikir berbagai macam skenario tentang acara yang belum dimulai ini. Mbak Sayuti juga masih sibuk mondar-mandir di dapur.

Seorang mbak-mbak yang terlihat muda, mencoba menawariku kue. Mungkin dia tahu, kalau aku merasa kikuk atas situasi absurd ini. Dia juga menyanjung cara berjilbabku yang menutup dada. Ahaha. Biar ada obrolan kali ya, dengan bahasa Spanyol patah-patah aku pun berusaha menjelaskan caraku memakai jilbab. Kami tertawa hahaha-hihihi lagi.

Kuseruput teh herba yang barusan dituangkannya untukku. Duh, enaknya. Lagi-lagi, dia mempersilakan aku untuk mengambil kue di depanku. Tak tanggung-tanggung, dia pun lantas menyodorkan sepiring penuh berisi macam-macam kue. Aku pun terpaksa mengambilnya, padahal memang kepengin mencicipi. Ah, pucuk dicinta ulam pun tiba! Dasar perempuan. Malu-malu meong. 😆

Kuambil sebuah terang bulan dari piring yang disodorkannya. Dan kupikir langsung dimakan saja. Hehehe. Oh, tidak rupanya! Perempuan di sebelahku lalu menunjukkan piring kecil isi mentega dan madu. Isyarat bahwa si terang bulan mestinya dimakan bersama dengan madu atau mentega. Baiklah, aku pun mengambil mentega dan kuoleskan ke bagian dalam terang bulan.

Menteganya masih agak beku, pantas saja susah menyatu dengan si terang bulan. Hadyuh.. Lalu, kutambahkan saja madu biar ada rasa manis-manisnya, gitu. Nyamm… kunikmati si terang bulan seperti makan hamburger. Hap..hap..hap..

Olala, ternyata cara makannya bukan begitu. Namun disobek kecil baru dicelupkan ke mentega atau madu. Oalah mbak, kenapa kau tak ajarkan padaku dulu tadi? Terperanjat diriku melihat mbak-mbak yang duduk di seberang sana, turut menikmati terang bulannya. Terlambat sudah karena kini aku memilih mencicipi si lumpia isi ikan tuna dan telur.

Kulihat Mbak Sayuti masih sibuk wara-wiri membawa teko-teko berisi teh, air putih, dan jus jeruk. Sesekali dia tersenyum padaku dan menyuruhku mencicipi hidangan kue dan panganan di meja. Tiba-tiba, bel berbunyi dan tak lama kemudian ada peserta lain yang datang. Wah, masih ada yang lain datang juga?

Tamu lain, seorang ibu-ibu yang lebih pantas kusebut tante, datang dan duduk di samping kananku. Mbak-mbak yang ramah tadi mengambil segelas teh panas dan memberikannya pada si tante. Mereka mengobrol sesuatu yang tak kumengerti. Datanglah seorang perempuan lain ikut nimbrung duduk di sebelahnya. Kebetulan dia punya balita umur satu setengah tahun. Si balita pun serta merta mendekati si tante. Aku jadi ikutan menggoda si balita dong.

Aku bercandai si balita sampai dia tertawa terkekeh-kekeh. Sesekali si balita menginginkan lumpia yang sedang kumakan. Aku pun sungkan untuk memberi, karena aku tak tahu apakah si balita diperbolehkan atau tidak makan lumpia. Ibu balita lantas memberikan biskuit padanya. Aku masih saja terus mencandai si balita. Ia pun masih terus terkekeh karena kugodai.

Tanpa kuduga, si tante tiba-tiba berubah raut mukanya. Rona wajahnya memerah dan terlihat sedih, tampak bulir air mata keluar dari sudut matanya. Waduh, ada apa ini… ada apa ini? batinku. Aku yang baru saja mengunyah lumpia dan hendak menelannya, tercekat seketika. 😳

Suasana menjadi teramat aneh setelahnya. Mbak-mbak yang ramah tadi berusaha menenangkan si tante dan memberikan sehelai tisu padanya. Mbak Sayuti yang kebetulan lewat, jadi ikutan nimbrung memeriksa apa yang sedang terjadi. Si tante menjelaskan tentang sesuatu. Duh, kok aku jadi salah tingkah nih. Perasaan aku ya ndak berbuat aneh-aneh. Mbak Sayuti menepuk-nepuk si tante, memberikan tanda simpatinya. Tak lupa dia melirik padaku, memberi kode bahwa yang barusan terjadi bukanlah apa-apa. Akhirnya kutaruh lumpiaku di piring gara-gara situasi yang canggung ini. 🙄

Beberapa menit kemudian, suasana kembali normal dan mereka membicarakan topik yang lain. Mbak Sayuti sesekali menanyaiku, gimana enak enggak kuenya? Ya. Ya. Enaakk. hehehe. Jawabku. Aku masih bingung dengan acara ini sejujurnya. Aku pikir akan ada acara pembukaan atau apa. Ternyata, semua mengalir begitu saja. Betul-betul acara arisan yang isinya hanya bincang-bincang santai. Tapi, mau santai bagaimana, yang kurasakan malah aku yang canggung ingin segera kabur dari tempat ini. Untung saja ada kudapan yang bisa kucicipi. Jadi, walau aku enggak mudeng obrolan mereka, aku masih bisa icip-icip. 😆

Satu setengah jam berlalu. Aku yang tadinya datang dengan perut kosong, mulai kekenyangan setelah icip-icip kue yang diselingi minum teh. Hari juga makin siang, aku masih tak tahu harus berbuat apa. Beberapa tamu lain masih saja datang silih berganti. Aku yang sudah ndak tahan dengan kebosanan ini memilih main hape. Kebetulan, ada teman lama yang tiba-tiba kirim pesan whatsapp. Aku justru jadi curcol padanya karena nyasar di acara minum jus tomat. 😆

Sembari memperhatikan situasi dan kondisi, aku berpikir keras bagaimana caranya keluar dari acara yang sungguh membosankan ini. Aku juga sedari tadi menunggu-nunggu jus tomat yang menjadi inti acara ini, seperti undangan yang disampaikan Mbak Sayuti padaku kemarin. Tapi kok ya ndak kunjung dihidangkan. Malahan sebaliknya, jus jeruk dan teh yang menjadi suguhan di acara ini.

Aku jadi curiga. Sebenarnya apakah tomat atau tomar atau apa ya? Ah, tapi bener kok. Aku dengernya Mbak Sayuti bilang tomat kemarin padaku! Sanggahku pada diriku sendiri.  

Hemm… kayaknya memang aku yang salah persepsi deh. Mungkin memang tomar kali ya. Kalau “tomat”, pasti dia akan bilang tomate. Bahasa Spanyolnya “tomat” kan tomate bukan tomat? Tomat mah bahasa Indonesia keleus. Aku bersungut-sungut sendiri. :mrgreen:

Fiuhh… Aku benar-benar mulai menyerah dengan situasi ini. Ngantuk. Bosan. Salah tingkah. Garing. Enggak jelas.

Akhirnya, aku punya kesempatan untuk kabur setelah ada beberapa orang yang pamit menjemput anaknya sekolah. Aku pergi ke dapur menemui Mbak Sayuti yang sedang mempersiapkan sesuatu. Kukatakan padanya bahwa ini sudah hampir mendekati jam makan siang. Sebentar lagi Mas Bou akan pulang dan aku harus menyiapkan makan siang untuknya. 😀

Mbak Sayuti pun memahami dan mengizinkan aku pamit. Disuruhnya aku menunggu sebentar. Dia mengambil wadah dan membungkus beberapa camilan kue untuk kubawa pulang. Akhirnya aku pamit padanya sembari bilang bahwa kami akan bertemu lagi di kelas besok. Tak lupa aku juga pamit kepada para peserta undangan minum tomat ini. Satu per satu aku cipika-cipiki pada semuanya. Kukatakan pada mereka bahwa aku senang bertemu dengan mereka. Hehehe. 😆

“Gracias. Hasta mañana.” (Terimakasih. Sampai besok.)

“Hasta mañana.” (Sampai besok.)

Kuturuni tangga dari lantai empat dengan perasaan bahagia. Rasa kantukku langsung hilang. Ahaha.

Kuambil ponselku dengan rasa penuh penasaran aku membuka aplikasi google translate. Kumasukkan kata “tomar” dan seketika muncullah hasil terjemahannya: minum.

Buahahaha….. Aku tertawa lepas. Ternyata “tomar” itu undangan minum! Bukan undangan minum jus TOMAT……………………. 😆 😆 😆

Tomar… oh… tomar….

Sambil kukayuh sepeda bicicas menuju rumah, aku tertawa cekikikan atas kekonyolan undangan minum jus “tomar” yang baru saja kuhadiri ini.

Bicicas Castellón
Siap pulang dengan sepeda bicicas